Pertama kali datang ke rumah Kak Dodi, aku mendapatkan aura yang berbeda, tenang rasanya. Tidak seperti pada saat aku datang ke rumah yang lainnya. Senyum ibu begitu teduh, Kak Ri yang cantik dan berbadan subur, selalu ramah dengan siapa saja. Kak Dodi yang unik, satu yang selalu kuingat darinya adalah, dia suka melempar ransel semaunya dan main sambar makanan.
Pertama kali berjumpa pertanyaan selalu sama dengan yang lainnya, dari nama, pengalaman kerja sampai pada jumlah saudara. Di sana tidak membedakan makanan yang dimakan, semua sama.... hanya beda meja saja. Ini yang membuatku merasa beda di sana, tidak ada yang di bedakan di sana. Dulu pertama kali datang cuma ada aku dan Yati.
Dia saudara Kak Dodi, boleh di bilang keponakannya, tapi ya itu, diskoneknya minta ampun. Hal yang pertama kali aku lupa adalah mereka orang batak, bukan orang jawa. Saat pertama kali, di suruh masak, aku malah membuat masakan jawa... hehehehe... tentu saja mereka merasa aneh...
"Kau harus belajar masak sama mama, May." itu yang di bilang Kak Dodi saat melihat makanan di Meja, Ah, untunge ndak parah rasanya.
"May, kalau kau dah pandai masak. Kita bikin warung di depan. Ibu pingin punya warung di depan, ramai daerah sini." mendengar harapan ibu yang begitu besar aku cuma bisa senyum saja.
Hari-hari di sana kulalui dengan sesuatu yang baru. Belajar masakan mereka, menu yang di sukai Kak Dodi, Kak Riri, dan juga bapak. Ada yang paling aku sukai di sana, saat makan. Kebersamaannya dan juga suasana santai, saling 'menginjak' dengan cara yang beda.
"May. Kau dari pertama datang sampai sekarang tak berubah. Jarang teriak, ndak kayak Yati!"
Aku hampir tersedak mendengar ucapan Kak Dodi. dia selalu to the poin.
"Beda, Bang! Kak May jawa, Yati Batak!"
Hampir meledak tawaku mendengar ucapan Yati. Apa bedanya jawa dan batak. Mereka belum tahu kalau aku juga bisa jadi preman seperti mereka. hehehehee...
Tak di sangka jika suasana ini ternyata kujadikan penggalan dalam novelku. Ya, aku tak bisa melupakan semuanya. Di sana, aku merasa beda, bukan sebagai pembantu tapi sebagai keluarga juga. Sebagai May yang bisa masak, ngecat, beneri pintu. dan juga berdamai dengan 'mereka' yang selalu usil dengan anak-anak kos yang bermasalah. Ah andai saja aku tak sakit ,... mungkin aku masih bersama mereka. Melihat keluarga mereka berkembang... ahhh...
Sekarang aku punya banyak waktu untuk mengurai kembali kenangan yang pernah ada antara aku, Kak Dodi dan Ning. Mereka akan kubuat abadi, sampai aku menemukan cinta sejatiku dan mengganti semua ceritaku. Mereka akan menempati ruang berbeda dalam hatiku. Mereka abadi...
Kesedihan terindah adalah saat kau berhasil melewatinya dengan baik. Kemenangan terbesar adalah saat kau bisa menaklukkan dirimu sendiri tanpa hilang kewarasan. Saat kau kembali terseret ke masa lalu maka ingatlah bahwa masa lalu akan tetap hidup meski kau ingin membuangnya. Biarkan saja dia lewat dan menggodamu sementara waktu, taklukkan dengan cara yang benar. Kelak kau akan menjadi kuat karena rasa sakit tak akan bisa mengalahkanmu lagi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar